Mengintip Wisata Surga di Aikmel Barat! Ada Air Terjun Hangat Dingin

Desa-desa di Lombok Timur menyimpan beribu keindahan yang seolah takkan habis dijelajahi. Gumi patuh karya ini memang punya sederet kepingan surga indah, menanti untuk ditemukan para pemburu keindahan alam. Salah satunya yang baru diketahui adalah wisata Kokoq Gatep. Bentangan sungai dengan karakter tebing tersembunyi ini punya pesona begitu luar biasa.

Bantaran Sungai Kokoq Gatep ini berada di Desa Aikmel Barat Kecamatan Aikmel Kabupaten Lombok Timur-NTB. Lokasi ini handak disulap oleh pemerintah Desa setempat karena memiliki potensi yang tak kalah dengan wisata lainya.

Hasil penelusuran pihak pemerintah Desa Aikmel Barat pada Rabu 12/12/2019 obyek wisata ini memiliki spot yang cukup banyak. Aliran sungai untuk rever tubing, air terjun dua rasa ada yang dingin dan ada air hangat, kolam anak, spot tebing dan spot gua menambah kealamian lokasi itu.

Melihat potensi yang ada, pihak pemerintahan Desa Aikmel Barat berkomitmen untuk mengelola objek wisata berbasis desa. Dengan mendorong unit usaha BUMDes dan kelompok sadara wisata atau Pokdarwis dalam pengelolaannya.

Hal ini disampaikan Kepala Desa Aikmel Barat Mulyadi mengatakan bahwa pihaknya akan serius menata lokasi yang ada ini.

"Tahun anggaran 2020 ini kita akan bangun obyek wisata Kokoq Gatep, sebab ada banyak potensi dan lokasi ini sangat strategis dalam pengembangan wisata" Jelasnya pada Rabu 12/12/2019.

Related Posts:

Seorang Bayi Diketahui Gizi Buruk di Lombok Timur

Lombok Timur, SK - Penyakit gizi buruk masih  ditemukan di beberapa tempat. Meskipun pemerintah melalui dinas kesehatan seperti Puskesmas, didorong untuk terus memberikan pelayanan maksimal kepada warga melalui posyandu dengan memberikan makanan tambahan untuk pencegahan gizi buruk dan stunting.

Dinas kesehatan terus berupaya membantu masyarakat mengurangi gejala gizi buruk pada anak dengan memberikan makanan tambahan kepada bumil dan balita melalui kader posyandu di setiap desa.

Tujuannya supaya tidak ditemukannya lagi anak yang menderita penyakit kekurangan gizi atau gizi buruk menahun (kronis) seperti yang dialami Muhammad Saleh (2 tahun) alamat Dusun Barito,Desa Sambelia, kecamatan Sambelia, Lombok Timur.

MS panggilan Saleh, kelahiran 18 Juli 2017 putra pasangan Amaq Yul dan Rukiah, menderita gizi buruk terhitung sejak 2 Januari 2019, menurut ibunya, Saleh menderita penyakit kekurangan gizi katanya pasca terjadinya gempa setahun yang lalu. Hingga kini penyakit anaknya itu belum bisa diatasi. Meskipun orang tuanya sudah berupaya melakukan pengobatan secara medis dengan fisioterapi dibantu petugas kesehatan dari puskesmas maupun secara alternatif.

Merespon kejadian itu, camat Sambelia, Zaitul Akmal didampingi istrinya sekaligus ketua PKK Kecamatan dan Kapolsek Sambelia, Iptu. Ahmad Yani, pada (8/12) langsung turun berkunjung ke rumah korban, kemudian membawanya ke Puskesmas terdekat untuk menerima perawatan secara intensif.

Setelah dilakukan pemeriksaan oleh petugas medis ternyata, MS bukan saja menderita kekurangan gizi tapi dia juga dinyatakan menderita penyakit pneumonia atau biasa disebut radang paru-paru, epilepsi dan Down Syndrome. Sehingga pihak puskesmas mengarahkannya untuk segera dirujuk ke RSUD DR Soedjono, Selong, agar penyakitnya bisa segera diatasi.

Lagi-lagi karena alasan jauh dan tidak bisa menunggu anaknya untuk rawat inap di RSUD sehingga Amaq Yul meminta kepada petugas untuk merawatnya di Puskesmas saja.

"Terimakasih atas kepedulian pemerintah pada anak saya, tapi saya minta anak saya dirawat di Puskesmas saja apapun resikonya setelah dirawat biar saya yang tanggung, tidak ada juga yang bisa bantu saya untuk jaga rawat inap di rumah sakit," terang Amaq Yul yang kesehariannya bekerja sebagai tukang pandai besi.

Sehingga perawat sekaligus petugas gizi, Nurlaela yang mendampingi anak tersebut sejak dia menderita penyakit gizi buruk akan berupaya semaksimal mungkin membantu perawatannya di puskesmas.

Selama dia dirawat di puskesmas katanya dia akan membuatkan susu atau makanan formula untuk membantu asupan gizi pada si anak.

"Sekarang saya akan buatkan dia bubur formula sebagai makanan tambahannya selama dia dirawat, mudahan bisa kami atasi," harapnya. (Ggar)

Related Posts:

Tingginya Angka Kematian Ibu dan Anak, Kecamatan Aikmel Gelar Loka Karya Pelembagaan ACSIA

Lombok Timur.SK_Pemerintah Kecamatan Aikmel gelar Lokakarya Pelembagaan Aksi Cepat Sayang Ibu dan Anak (ACSIA) di Kecamatan dan Desa di Kabupaten Lombok Timur.

Kegiatan tersebut atas kerjasama Pemerintah Kabupaten Lombok Timur bersama dengan Kolaborasi Masyarakat dan Pelayanan untuk Kesejahteraan (KOMPAK). Berlangsung di Aula Lesehan Sekar Asri Sekarteja Selong Lombok Timur, Rabu 4/12/2019.

Menurut keterangan Camat Aikmel Hadi Fathurahman bahwa intervensi kesehatan khusunya terkait dengan ACSIA perlu ada kerja bersama dalam penanganan.

Selain itu, sesuai dengan agenda hari inj, diharapakan ada hasil berupa terbentuknya tim ACSIA  secara struktural di kecamatan dan di tingkat desa.

Senada juga disampaikan Distrik Fasilitator Kompak Kabupaten Lombok Timur Nanik Motehiyah berharap akan terbentuknya tim ACSIA di tingkat Kecamatan dan Aikmel dan di tingkat desa. Khsusunya tiga desa yang saat ini sebagai desa percontohan pelembagaan ACSIA, yakni Desa Kalijaga Timur, Toya dan Kembang Kerang.

Related Posts:

LAKSa: Satu Kebaikan Berimu Seribu Manfaat

Lombok Timur, SK- Lestari Alam Kehidupan Sambelia, disingkat LAKSa adalah, sebuah komunitas yang konsen bergerak di bidang penghijauan lahan akibat penebangan hutan secara liar oleh sekelompok masyarakat sehingga berdampak pada menurunnya debit air yang mengalir dari hutan Sambelia.

LAKSa yang didirikan sejak tiga tahun lalu oleh tokoh masyarakat dan sekelompok pemuda ini, dulunya bernama Komunitas Lingkungan Hutan Kemasyarakatan (KLHK) Sambelia.

Seiring waktu berlalu, dengan berbagai macam masukan serta pertimbangan dari anggota komunitas, kemudian nama KLHK diubah menjadi LAKSa.

Meskipun sempat berganti nama, namun anggota komunitas LAKSa yang awal berdirinya diinisiasi oleh Ahmad Yani (sekarang Kapolsek Sambelia-red) bersama pemuda Sambelia lainnya, kini semakin agresif melakukan bakti sosial seperti melakukan pembersihan Tempat Pemakaman Umum (TPU) dengan penyemprotan pada rumput atau ilalang yang ada di semua TPU se-Desa Sambelia agar para peziarah merasa nyaman ketika hendak  berziarah ke makam keluarganya.

Bukan hanya itu, LAKSa juga membantu meringankan tugas dinas kesehatan dengan melakukan penyemprotan DBD ke rumah-rumah warga agar warga tidak terserang penyakit demam berdarah atau dengue akibat gigitan nyamuk.

Selain bakti sosial yang disebutkan diatas, LAKSa lebih mengedepankan upaya untuk melindungi hutan agar tetap lestari. Mereka secara berkelompok atau bersama-sama pemuda lainnya, melakukan penghijauan kembali lahan yang sudah gundul. Bersama pemerintah Desa Sambelia, mensosialisasikan kepada masyarakat bagaimana kita menjaga hutan kehidupan untuk generasi penerus yang akan datang.

Apalagi sekarang, pemerintah daerah dan provinsi sedang gencar-gencarnya mengajak seluruh pemerintah desa dan masyarakat untuk melakukan program ekowisata di setiap desa. Tujuannya adalah agar masyarakat sadar bahwa dengan dimunculkannya ekowisata maka, desa tersebut akan menjadi terkenal serta dikunjungi banyak wisatawan.

Dengan dimunculkannya ekowisata di setiap desa dengan memanfaatkan potensi desa, maka akan bisa menjadi nilai jual dan pada akhirnya pengangguran bisa diserap serta desa juga bisa memperoleh asas manfaat serta membantu menambah Pendapatan Asli Desa (PADes).

"Jangan kita hanya mengambil manfaat dari hutan itu, tapi apa yang bisa kita berikan pada hutan untuk kepentingan anak cucu kita kedepan," kata Ustadz Humaeni.

Dengan adanya komunitas LAKSa ini, pemerintah desa merasa terbantu. Sejak tiga tahun lalu, mereka sudah menanam ratusan bibit nangka di sepanjang aliran sungai DAM Sambelia, namun kadang tidak semuanya bisa tumbuh dan berkembang karena masih kurangnya kesadaran masyarakat untuk menjaga tanaman tersebut. Bahkan menurut anggota LAKSa Ustadz Fathoni dan Burhan, sudah banyak bibit nangka itu rusak bahkan mati karena diinjak kerbau.

Pada acara musyawarah yang berlangsung di rumah Kades Sambelia di hadiri Kadus, toga, toma, pemuda serta komunitas LAKSa, pada, Sabtu malam (30/11) menyepakati beberapa point, diantaranya adalah:

1. Meminta kepada petani ladang agar memberikan support kepada Laksa baik berbentuk fisik maupun materil.
2. Petani Ladang harus turut serta melakukan penghijuan kembali dengan membantu LAKSa lakukan penanaman bibit yang sudah disiapkan.
3. Peternak Kerbau diingatkan untuk menjaga kerbaunya agar tidak melewati/menginjak tanaman yang sudah ditanam.
4. Pemerintah Desa akan membuat PerDes tentang point (3).
5. Masyarakat tidak diperbolehkan membuang sampah di sepanjang aliran sungai.

Lebih lanjut, Subandi mengatakan, bahwa menjaga kelestarian hutan adalah tanggung jawab kita bersama sebab, hutan adalah sumber kehidupan kita. Petani jika ingin mengairi sawahnya atau tanamannya, tentu air dari hutan.

Kemudian, keberadaan komunitas Laksa menurut Subandi adalah murni untuk sosial. "Jadi, tidak ada tendensi politik di dalamnya, ini murni kerja sosial," terang Subandi.

Oleh sebab itu, pemerintah desa pada waktu dekat ini berencana akan menjadikan Desa Sambelia menjadi Desa Wisata dan DAM Sambelia sebagai Ikonnya. Dengan mengedepankan asas musyawarah mufakat bersama BPD dan unsur masyarakat lainnya. (Ggar)

Related Posts:

Featured Post

Mengintip Wisata Surga di Aikmel Barat! Ada Air Terjun Hangat Dingin

Desa-desa di Lombok Timur menyimpan beribu keindahan yang seolah takkan habis dijelajahi. Gumi patuh karya ini memang punya sederet keping...