Ticker

6/recent/ticker-posts

Ad Code

Responsive Advertisement

Menelisik Tradisi Ziarah Kubur di Lombok

Lombok Timur, SK - Minggu 11/8/2019 ziarah kubur (makam) sudah menjadi tradisi masyarakat sasak menjelang bulan suci Ramadhan dan juga pasca Idul Fitri. Seluruh umad Islam sehabis melaksanakan sholat sunnat Idul Fitri (Ead)  akan berbondong - bondong mengunjungi makam keluarganya yang sudah lebih dulu menghadap sang pencipta.

Setelah mereka bersalam-salaman di masjid sambil mengucapkan Selamat hari raya Idul Fitri, Minal Aidzin Walfaidzin bersama jama'ah lainnya, mereka langsung berkumpul dirumah kemudian berangkat secara barsamaan ke lokasi kuburan dimana tempat keluarganya dimakamkan.

Tidak sedikit dari mereka menangis, menghiba diatas tumpukan tanah sambil memandang batu nisan yang bertuliskan nama keluarganya yang meninggal sembari berdo'a memohon semoga Allah, SWT mengampuni segala dosa yang almarhum/almarhumah lakukan selama hidup di dunia. Mereka berharap, agar keluarganya yang sudah menghadap sang pencipta, ditempatkan di sisi orang-orang beriman.

Diatas kuburan, mereka juga tidak lupa membaca surat Yasin sebelum salah satu dari keluarga mereka memimpin zikir dan do'a,  kemudian diaminkan oleh keluarga lainnya.

Tidak sedikit juga mereka yang tempat tinggalnya jauh dari makam, datang berziarah semata - mata bertujuan untuk mendoakan keluarganya yang sudah tiada.

Sebelum mereka meninggalkan makam, mereka akan mencabut rumput atau ilalang yang tumbuh diatasnya. Lantas, mereka menyiram batu nisan yang tertanam diatas kuburan menggunakan air suci yang mereka bawa dari rumah. Anak - anak, dewasa bahkan orangtua akan mencuci muka mereka menggunakan air yang mereka bawa diatas makam dengan tujuan supaya mereka tidak akan pernah lupa kepada keluarga yang telah meninggalkannya.

Inilah salah satu budaya sasak secara turun temurun diwariskan sebagai tanda jika mereka yang masih hidup tidak pernah melupakan kelurganya yang sudah meninggal dunia.

Menurut salah satu pengunjung makam Widiatul Fitri (30) mengatakan, "Jika kami tidak berkunjung ke makam keluarga setelah turun dari masjid maka, kami merasa tidak sempurna  hari raya yang kami rayakan," katanya.

Begitupula dikatakan penziarah lainya, Ayuni (30) mereka lebih mengutamakan mengunjungi makam sehabis lebaran baru kemudian mereka akan mudik ke rumah - rumah keluarganya yang jauh untuk bersilaturrahmi. Bagi mereka, bersilaturrahmi di momen hari raya idul fitri jauh lebih sempurna dibanding bulan-bulan lainnya

Inilah salah satu keistimewaan hari raya Idul Fitri, mereka bisa berkumpul setelah sekian lama terpisah sambil menikmati libur panjang bersama keluarga tercinta. (Ggar)

Posting Komentar

0 Komentar

Ad Code

Responsive Advertisement