Banyak Anak Putus Sekolah, Ikhsan Hadirkan Sekolah Bahagia - Speaker Kampung

Breaking News

Home Top Ad

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Selasa, 20 Oktober 2020

Banyak Anak Putus Sekolah, Ikhsan Hadirkan Sekolah Bahagia


Lombok Timur, SK- Sekolah sebagai lembaga pendidikan tempat mengembangkan potensi manusia,  mencetak generasi penerus agar kelak menjadi anak yang mampu menjalankan tugas keseharian baik secara individual maupun bersama masyarakat. 


Selain sekolah tempat menimba ilmu pengetahuan, pembentukan karakter, sekolah juga bisa dijadikan sebagai tempat untuk menyambut kebahagiaan. Demikian disampaikan ketua yayasan cabang Maraqitta'limat, Pringgabaya, Nurul Ikhsan, SH.


Kalimat ini disampaikan Ikhsan di depan Kadis sosial H. Ahmat A, S.Kep, MM ketika mengadakan sosialisasi, edukasi program Tagana Masuk Sekolah (TMS) Senin, (19/10/2020) di SMP-MT Dusun Embangan, Desa Pringgabaya Utara, Lombok Timur, NTB.


Diceritakan Ikhsan, dibangunnya sekolah di tempat terpencil seperti ini katanya, dilatarbelakangi setelah melihat banyaknya anak putus sekolah bahkan tidak bersekolah sama sekali sehingga menimbulkan naiknya kasus angka kawin pada usia dini. 


"Wilayah ini dulunya sepi, angker, kering, jalannya apalagi sangat tidak memadai untuk dilewati. Sehingga saya berpikir bagaimana cara saya agar bisa merubah kondisi sosial masyarakat terutama dalam hal pendidikan untuk mencegah kawin usia dini," kata Ikhsan di depan kadis dan rombongannya.


Sebagai aktivis perlindungan anak, tentu menemukan kondisi seperti itu baginya sangat memprihatinkan. Untuk mencegah hal itu jangan terus terjadi kemudian, dia membangun lembaga pendidikan dibawah naungan yayasan Maraqitta'limat pada tahun 2012. 


Tidak bisa dipungkiri, untuk membangun sekolah pada saat itu tentu banyak menemui kendala, tantangan, cobaan baik secara finansial maupun dalam hal pembebasan tanah.


Tapi dengan tekad yang bulat demi masa depan anak-anak, dia terus melakukan pendekatan, sosialisasi kepada masyarakat sekitar sehingga sekarang anak-anak yang menuntut ilmu di sekolah itu sebanyak 235 orang. Dengan rincian PAUD 26 orang, SD 79 orang, SMP 54 orang dan SMA sebanyak 76 orang.


Kemudian guru yang mengajar di sekolah tersebut sebanyak 34 orang semuanya tenaga honorer dan tidak satupun diantara mereka menerima sertifikasi apalagi jadi PNS. Tapi mereka semua tetap tekun mengajar meskipun gaji yang mereka terima bersumber hanya dari dana BOS.


Salah satu guru honorer, Lalu Muhammad Huluki asal Desa Korleko, Kecamatan Labuhan Haji pada media ini menceritakan, dia mulai mengajar katanya sejak sekolah ini dirintis pada tahun 2012. 


Guru yang memegang mata pelajaran Bahasa Indonesia ini betah mengajar hingga kini didorong keinginannya

melihat perubahan sosial masyarakat terutama upaya mencegah kawin dini lewat lembaga pendidikan.


Faktor penyebab anak tidak bersekolah menurutnya karena tempat mereka tinggal dengan lokasi sekolah milik pemerintah cukup jauh sehingga anak-anak merasa malas untuk bersekolah. Ketimpangan ekonomi juga bisa menyumbang anak putus sekolah.


Lewat bangku sekolah edukasi secara intens bisa dilakukan untuk mengubah pola pikir orang tua dan anak bahwa pendidikan itu sangatlah penting dan salah satu hak dasar warga yang wajib dipenuhi pemerintah.


"Anak putus sekolah waktu itu banyak kita temukan disini sehingga mengakibatkan terjadinya anak kawin pada usia dini. Nah, itulah yang mendorong kami untuk membangun sekolah mulai dari tingkat PAUD hingga SMA," terang Huluki.


Selain itu tambahnya, lewat sekolah ikatan silaturahmi antara guru dengan guru, siswa dengan siswa, guru dengan siswa dan juga orang tua dengan guru serta elemen masyarakat terus mereka tingkatkan agar tercipta nuansa hidup harmonis bersama masyarakat.


Hamban Fatmasari, siswi kelas III SMA-MT menceritakan, sebelum sekolah ini dibangun dulu katanya, dia bersekolah di salah satu Sekolah Dasar Negeri (SDN) milik pemerintah. Lokasinya cukup jauh. Dari rumahnya dia berjalan kaki butuh waktu sekitar satu jam perjalanan baru bisa sampai sekolah. 


Setelah dia lulus, ia kemudian melanjutkan pendidikan di SMP-MT berlanjut ke SMA-MT sekarang kelas III. Ditanya kenapa dia mau bersekolah disini jawabannya sederhana, selain dekat dengan rumah segala biaya pendidikan termasuk seragam sekolah, alat tulis dan sejenisnya digratiskan.


"Saya senang sekolah disini karena tanpa biaya, semuanya digratiskan. Mulai dari seragam sekolah, alat tulis dan kebutuhan lainnya yang menyangkut sekolah," jawabnya.


Katanya lagi, alumni lulusan sekolah yayasan MT ini sudah ada yang diterima mengajar di sini. "Teman saya alumni sini sudah ada yang mengajar di sekolah ini," tambahnya.


Rinawati, yang duduk dibangku kelas III SMP saat ini juga menyampaikan alasan yang sama. Selain gratis biaya sekolah, guru yang mengajarnya baik semua. Hal yang paling berkesan yang tidak bisa dilupakan di sekolah ini adalah ketika ia diajak mengikuti jambore nasional. Disana dia bisa jalin silaturahmi berinteraksi langsung dengan temannya dari lain sekolah. 


"Yang membuat saya senang bersekolah disini adalah ketika kami diajak mengikuti jambore nasional. Saya bisa bersilaturahmi menambah teman dari luar sekolah kami, itu yang tidak bisa saya lupakan," cetusnya. (Ggar)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad