Citra, Cerita Singkat Wartawati asal Pulau Maringkik - Speaker Kampung

Breaking News

Home Top Ad

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Saturday, 31 July 2021

Citra, Cerita Singkat Wartawati asal Pulau Maringkik

 


Lombok Timur, SK - Cerita singkat seorang wartawan perempuan (wartawati) yang mana pada saat ini masih mengenyam pendidikan di salah satu perguruan tinggi swasta di Kabupaten Lombok Timur. 


Perempuan cantik berparas menawan dan mudah bergaul ini, bernama Citra Maulida, tapi ingat bukan pencitraan ya hehee... Teman-teman sebayanya biasa memanggilnya dengan sebutan Nina. Pada saat ini, Nina sedang menempuh kuliah semester akhir fakultas Hukum di salah satu Kampus ternama di Lombok Timur.


Sebagai seorang mahasiswa, Nina tentu dituntut untuk terus berinovasi mencari jati diri, menemukan hal-hal baru dalam dunia pendidikan. Pengalamannya sebagai wartawan di salah satu media, dijadikan tonggak perjuangan untuk menegakkan pilar ke 4 (empat) demokrasi di Indonesia.


Terlepas peran mahasiswa sebagai agent Of Change dan Agent Of Control, mendorong banyak mahasiswa terjun ke dunia aktivis memperjuangkan hak perempuan. Disana mereka bisa menemukan hal-hal baru kemudian nantinya bisa dipraktekkan di ruang lingkup masyarakat sekitarnya. 


Mahasiswa melahirkan gerakan reformasi harus punya konsep, memiliki idealisme yang kuat. Fase demi fase terus dilaluinya selama berada di kampus hingga ke lapangan nyaris tertarik untuk menelusuri perjalanan hidupnya.


Berawal dari lamunan dikala senja nan sedikit mendung. Selang beberapa hari kemudian, gadis manis berkerudung ini, tanpa sengaja menscroll lalu melihat story temannya. Di story temannya itu, Nina membaca pamflet terpampang tulisan pembukaan lowongan pekerjaan sebagai wartawan. 


Ketika itu juga, sontak terbersit keinginan untuk mencoba hal baru dalam hidupnya. Ada rasa ketertarikan di hatinya ingin masuk ke dunia jurnalisme, dan akhirnya ia pun mencobanya. 


Pengalaman pertama menjadi seorang jurnalis, Nina mewawancarai anggota kepolisian. Polisi itu kebetulan teman kelasnya ketika berada di perguruan tinggi.  


Diceritakan Nina, awalnya ia sempat ragu, tidak ada rasa percaya diri memegang profesi sebagai seorang jurnalis. Seorang jurnalis katanya membutuhkan mental yang kuat, konsisten ketika melakukan liputan di lapangan.


Kegelisahan dan rasa tidak percaya dirinya itu mengantarkannya pada lamunan yang tidak berarti bahkan nyaris membunuh karir atau masa depannya. Manakala tugas akhir kuliahnya memacunya untuk terus bersemangat.


Kerasnya kerikil jalanan tidak membuatnya patah semangat, Nina terus mensupport diri meskipun sedang mengerjakan tugas akhir semester. 


Tatkala pemikirannya tertuju pada suatu kalimat dikala sore seminggu yang lalu. Tanpa sengaja Nina bertemu dengan laki paruh baya. Laki paruh baya itu menitip pesan padanya yang kira-kira bunyinya begini "Selama kau muda habiskan masa gagalmu, cobalah berbagai pengalaman dalam konteks positive. Namun ingat, mencoba bukan berarti semuanya. Engkau perlu menyaringnya agar waktu mu tidak terbuang sia-sia" kata-kata itu lantas membuat Nina sontak terbangun dari lamunan panjangnya.


Berangkat dari kejadian itu, Nina mulai merubah pola pikir. Menurutnya apapun pekerjaan itu adalah pilihan karena setiap orang berhak menentukan pilihan siapa dan dari gender apapun.


Terlepas dari diri nya menjadi seorang perempuan bahwasanya banyak sekali diskriminasi yang terjadi pada perempuan belakangan ini. Menurut pandangan sebagian orang, perempuan dikatakan hanya bisa di ranah domestik ternyata itu keliru. Nina ingin membuktikan bahwa, perempuan bisa multitalenta tidak melulu di cap hanya tahu warna lipstik dan merk make up. 


Nina ingin mematahkan mitos tersebut. Ia akan buktikan bahwa perempuan bisa melakukan apa yang dilakukan lelaki (multi peran) agar perempuan tidak melulu terpengaruh mitos keterbatasan ruang gerak. 


Menjadi wartawan perempuan (wartawati) yang notabene minoritas bukan suatu hal yang tidak bisa ia lakukan. Bahkan tidak masalah bagi Nina ketika ia bisa menyesuaikan diri maka dunia baginya terasa berwarna sejak ia menjalani aktivitas liputan.


Secercah coretan ini ketika siapapun membacanya terkadang merasa tidak berdampak bahkan bisa saja diasumsikan hanya tulisan datar seorang perempuan. Mungkin ada juga yang berpikir hanya coretan dalam kertas polos semata.


Mungkin juga sebagian perempuan diluar sana jadi kaum rebahan yang sedang naik daun. Ada juga yang sudah mulai tergugah untuk membentuk gerakan-gerakan kecil yang mampu memotivasi kaum perempuan lainnya.


Apapun pengaruhnya, Nina hanya ingin agar kaum perempuan bisa membuktikan diri bahwa mereka bisa merdeka dengan ruang tanpa batasan meskipun terkadang kaum perempuan nyaris terbunuh gerakannya.


Inilah cerita singkat Citra (Nina) untuk kaum perempuan hebat di luar sana. Mungkin pada saat ini ada yang sedang rebahan, dilematis atau ada yang sedang melakukan gerakan membangkitkan semangat perempuan di sekitarnya daripada menghabiskan waktu mendengar celotehan tetangga. 


Kini sudah tiba saatnya perempuan harus merubah mindset dibuktikan dengan melakukan gerakan sosial untuk kepentingan banyak orang. Dari sekedar emperan sewaktu-waktu bisa menuju empire. Apapun hasilnya bergerak adalah langkah tepat yang perlu diambil. (Ggar)

No comments:

Post Bottom Ad