Ticker

6/recent/ticker-posts

Ad Code

Responsive Advertisement

Diskriminasi Tak Bisa Melemahkan Hak Asasi: Sepenggal Kisah Hare Krishna di Bali


Mentari pagi menghampari wajah manis sosok perempuan berambut panjang itu. Dirinya tengah bernyanyi bersama burung-burung. Diiringi percikan air dari air yang mengalir untuk tanaman indah di halaman rumah.


Nang ning nung,” tutur perempuan yang akrab disapa Rima, bukan nama sebenarnya.

Perempuan ini masih duduk di bangku kuliah, dengan baju kaos merah, kontras dikulitnya yang putih bersih, dipadukan dengan celana jeans biru membuat ia kian mempesona.

••


Saat ditemui di kediamannya, senyumnya merekah dengan sambutan hangat dan peluk yang erat. Berdiri disamping pagar kayu berwarna coklat nan kokoh, aku menghampiri nya. Sembari menerawang, melihat jauh ke dalam rumah dengan cat tembok putih pucat.


Rima mengajakku duduk. Di kursi usang, depan perapian yang tak tau kapan terakhir kali digunakan. Sebelumnya memang sudah aku beritahu tujuanku menemuinya, hingga kini ia mulai bercerita dengan begitu riangnya.


"Hare Krishna itu menurutku adalah cinta kasih sesama makhluk hidup,” ujarnya sembari tersenyum dengan mata menerawang jauh.

"Tapi ya banyak orang-orang ngira kalau Hare Krishna itu sebenernya diajarin hal nggak bener, kayak nggak boleh ke pura. Padahal itu nggak bener sama sekali. Malah dengan belajar dari sini, aku pribadi jadi lebih tau gimana khusyuk nya persembahyangan, lebih kritis tentang makna upakara dan masih banyak lagi,” ujarnya.


Rima menoleh kearahku sembari berkata, sebenarnya keyakinan agama Hindu sama dengan kepercayaan kita juga dengan budaya pakem Hindu Bali. Yang membedakan pasti caranya dan etika kita memahami. Menurut orang awam yang koar-koar dan mengecap Hare Krishna ini nggak bagus mereka cuma kurang pemahaman bagaimana belajar agama dengan kitab kita sendiri.

Jadi kerangka agama Hindu itu yang seharusnya kita pelajari dan pahami, gak hanya upacara atau etika saja tapi 3 hal ini juga harus seimbang,” sambungnya lagi, sembari tangannya bertautan erat satu sama lain.

•••••


Rima, gadis cantik manis yang tinggal di Bali karena merantau. Ia merupakan pengikut aliran Hare Krishna satu-satunya di keluarganya. Pada awal mulanya, ia merupakan Hindu pada umumnya, mengikuti garis keturunan keluarga.


Namun, setelah ia mengenal temannya yang kala itu memperkenalkan pada ajaran Hare Krishna, hatinya tergerak. Bergetar, hati dan pikiran nya mengikuti nuraninya. Ia memperdalam ajaran dalam suatu Asram, tempat para pengikut aliran Hare Krishna.


Yang didampingi oleh guru besarnya, yang sering disebut dengan Maharaj, di mana ada garis keturunan guru spiritual dari Prabhupada. Abhay Charanaravinda Bhaktivedanta Swami Prabhupada merupakan seorang guru dari Parampara Gaudiya Waisnawa dan Acharya pendiri Masyarakat Internasional Kesadaran Kresna, umumnya dikenal sebagai "Gerakan Hare Krishna".


Hingga kini, Rima dan keluarga menganut satu agama yang sama, yakni Hindu. Namun dengan aliran berbeda. Rima teguh pada pendirian nya untuk tetap di jalan Hare Krishna. Dan keluarganya tetap pada kepercayaan Hindu pada umumnya.

•••


Rima menceritakan suka duka saat memilih meyakini ajaran Hare Krishna. Kami tidak bisa leluasa seperti biasanya ke asram karena kejadian larangan itu" tuturnya, dengan air muka yang begitu sedih.


"Buat kita semua di asram jadi waspada dan menutup bahkan sampai permanen orang-orang yang ikut jadi nggak ikut lagi, ya karena dengar orang sekitar yang terlalu mencemooh kalau ini nggak bener.” mukanya keruh, berkata dengan begitu tegasnya.


“Sebenarnya tergantung pribadinya saja. Kalo kita bawaannya strict ya nggak sembahyang ke pura. Itu yang salah memahami ajaran Bhagavad Gita juga. Jadi semua kembali lagi sama pribadinya,” begitu ungkap Rima ketika aku tanya, mengapa banyak orang menganggap apa yang ia yakini salah.

••


Mengutip Barbara Bradley Hagerty dari NPR, kelompok Hare Krishna adalah sekte mistik dari agama Hindu. Pada umumnya mereka dikategorikan sebagai bentuk agama Hindu yang monoteis, karena pengikut Hare Krishna percaya bahwa semua dewa dan ilah-ilah adalah penjelmaan satu Tuhan,  yakni Awatara Vishnu atau Krishna.


Pengertian “monoteisme” Hare Krishna dianggap kurang jelas, karena Sri Krishna mempunyai “istri kekal” yang bernama Srimati Radharani; bersama, Krishna dan Radharani adalah “Pasangan Tuhani.” Asal mula kelompok Hare Krishna, yang juga dikenal sebagai Gaudiya Vaishnavisme atau Chaitanya Vaishnavisme, dipromosikan oleh International Society for Krishna Consciousness (or ISKCON).


Gerakan Hare Krishna dimulai pada abad ke-15 (tahun 1486) dimana ketika pendirinya, Chaitanya Mahaprabhu, mulai mengajar bahwa Krishna adalah Tuhan tertinggi.


Mengutip laman Komnas HAM, di Indonesia, Hare Krishna berada dibawah pengayoman PHDI (Parisadha Hindu Dharma Indonesia) Pusat, yang kemudian diturunkan kepada PHDI Bali. Sempat terjadi polemik karena keberadaannya sehingga kini Hare Krishna tak lagi dibawah pengayoman PHDI.


PHDI Pusat resmi mencabut pengayoman kepada sampradaya Hare Krisna atau International Society for Krishna Consciousness (ISKCON) Indonesia. Pencabutan pengayoman itu tertuang dalam surat bernomor 374/PHDI Pusat/VII/2021 tertanggal 30 Juli 2021 yang ditandatangani oleh Ketua Umum Pengurus Harian PHDI Pusat Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya, yang telah dikutip di laman resmi Komnas HAM.


Pada 8 April, 2021, Komnas HAM menerima pengaduan dari International Society for Krishna Consciousness (ISKCON) Indonesia terkait dengan dugaan pelanggaran HAM terkait hak beribadah dan berkeyakinan.


Pembatasan dilakukan dengan menutup tempat ibadah Ashram Krishna Balaram, dan Ashram Radha Mahacandra.


“Sehingga kami merasa dirugikan selaku umat manusia yang memiliki hak untuk memeluk agama dan kepercayaan masing-masing,” keluh Putu Wijaya, Sekretaris Jenderal ISKCON Indonesia, demikian dikutip laman web Komnas HAM.


Selain itu, dituduh tidak melakukan dresta -- tradisi adat istiadat yang berlaku di suatu masyarakat -- Bali. Padahal dia dan umat lainnya merupakan orang Bali, dan tetap menghormati ajaran leluhur, begitu tegas Putu Wijaya sampaikan dalam laman web Komnas HAM.

•••


Kembali ke Rima, yang menceritakan pengalamannya di-bully karena menjadi pengikut Hare Krishna.

"Aku pernah di-bully dan dicemooh karena aku mengikuti aliran Hare Krishna. Bahkan aku setiap bertemu seseorang dan ia tau aku adalah Hare Krishna, selalu memberiku tatapan sinis dan judesnya" begitu ungkap rima.


"Untungnya sih tidak pernah ada kekerasan fisik. Hanya saja verbal dan sosial itu sangat menyakitkan. Apalagi tidak diperbolehkan ibadah ke pura dan tidak diperbolehkan keluar asram" lanjutnya, diiringi air mata yang kian lama kian deras menetes.


Di akhir perbincangan kami, perempuan berbaju merah tersebut meneteskan air matanya karena kekecewaan yang dirasakannya. “Sedikit kecewa sama oknum-oknum yg memanfaatkan hal ini sebagai politik juga ya. Karena mereka belum tau bagaimana rasanya masuk ke dalam ini,” ujarnya.


“Herannya adalah kita sesama agama Hindu bukannya saling menguatkan di tengah minoritas malah semakin ditekan dan dilarang ini itu oleh oknum-oknum. Hingga membuat asumsi publik muncul dan pada akhirnya Hindu di Indonesia bakalan terus merosot jika terus menerus kedepan saling men-judge sesama agamanya,” begitu tegasnya.


Setelah asyik berbincang bincang dengan Rima, akupun berpamitan untuk pulang. Kini langkah kakiku menuju rumah Esti ; bukan nama asli, perempuan manis yang juga menganut ajaran Hare Krishna.


Kehadiranku kala itu disambut dengan suara yang ramah dari gadis manis tersebut, aku diajak duduk di taman bunga di halaman rumahnya. Banyak bunga bermekaran, harum semerbak mendampingi obrolan kami berdua.


Tidak ada syarat khusus untuk masuk ke Hare Krishna, tapi apabila dia sudah mengikuti kesadaran Krishna dan menekuninya dia pasti bisa mengikuti prinsip prinsipnya,” ujarnya.


Gadis dengan senyuman manis memberitahuku nama guru dalam hare Krishna, Tapi guru spiritual di Kesadaran Krishna disebut maharaj. dan juga kami tingkatan kayak brahmacari itu dari seorang remaja dia akan tinggal di asram dan melakukan pelayanan di asram”


Penjelasan Esti berlanjut, bahwa ajaran Hare Krishna bisa dibilang hampir sama dengan Hindu “Sebenarnya bisa dibilang Hindu. tapi dulu karena awal penyebarannya ada di dunia Barat dan mereka asing dengan agama Hindu maka disebutlah sanatana dharma. Karena apa yang ada di agama Hindu di Hare Krishna juga ada. Kalau kalian membaca Bahagavad Gita kalian pasti akan menemukan kesamaan kesamaan tersebut,” tambahnya.


Esti gadis dengan rambut sedikit ikal tersebut sering mengalami ejekan dari teman-temannya, ia kerap kali disebut sebut sebagai Dewi Biru” selama meyakini ajaran Hare Krishna.


Perbincangan seru kami diakhiri dengan pernyataan gadis tersebut adalah seorang vegetarian. Dalam ajaran kami tidak disarankan untuk membunuh dan menyakiti. Karena di setiap tubuh makhluk hidup memiliki atma yang bersemayam didalamnya jadi ya kalo kita makan daging ya otomatis ada dosa di dalam itu. tapi itukan keyakinan kita kalo org lain tidak setuju ya karena kita tidak sejalan,” begitu yakinnya.

•••


Harja, bukan nama sebenarnya, merupakan seorang akademisi di salah satu universitas di Bali. Ditemui disalah satu kafe, dengan sambutan ramah dan gaya yang begitu santai.


Tanpa basa basi selain sapaan selamat pagi, beliau berujar lugas. "Ajaran Hare Krisna ini sebenarnya bagus ya, dimana kita diajarkan untuk membaca salah satu kitab suci kita yaitu bhagavad gita. Yang didalamnya terdapat sekali ajaran-ajaran untuk menjalani hidup ini dengan baik,” begitu ungkapnya.


“Baik dari ilmu ketuhanan, bahkan sampai ilmu dalam menjalankan kehidupan disana ada. Namun kembali ke orang-orang yang ada didalam tersebut yang membuat terjadinya perpecahan hingga hare krisna ditolak,” tambahnya dengan tangan menopang dagu sembari matanya terus menatap luar jendela dengan tajam, seakan menelanjangi jalanan dan orang yang berlalu lalang.


Kembali beliau berujar. "tahun-tahun kemarin sebenarnya sangat memprihatinkan dimana dengan adanya oknum dari anggota Hare Krihsna yang mungkin menjelek-jelekan budaya Bali atau mengatakan yadnya yang dilakukan di Bali tidak yadnya yang sattwik karena menggunakan daging dan lain sebagainya. Sehingga menimbulkan perdebatan atau cekcok dengan sesama umat Hindu di Bali.”


Beliau memandang hal ini terjadi karena terdapat salah tafsir dalam penjelasan yang diberikan oleh pemimpinnya dan sifat fanatik yang berlebihan terhadap satu aliran sehingga menganggap alirannya sendiri yang paling benar. Bahkan sampai mengikuti gaya dan budaya dari India, yang mengakibatkan mereka lupa dengan budaya sendiri.


Obrolan berlanjut dengan begitu menegangkan. Sedikit peluh menetes di dahi beliau. Sembari menyesap kopi yang entah pahit ataupun manis rasanya dengan begitu nikmat. Beliau menarik nafas panjang.


"Tidak ada ajaran yang jelek, ini lebih tinggi dan itu lebih rendah, begitupun pada aliran-aliran kepercayaan Hindu yang berkembang di Bali, seperti Sai Baba, Hare Krishna, Brahma Kumaris dan lain sebagainya. Semuanya mengejarkan tentang kebaikan,” paparnya.


“Namun kita harus paham sebagai manusia yang memiliki sifat sosial dan individu. Kita harus mampu menyesuaikan mana yang sadana spiritual individu dan mana yang sadana spiritual sosial" lanjut beliau.


"Intinya di sini ketika kita belajar apapun itu kita harus bisa meposisikan diri, jangan sampai semakin kita belajar kita malah menjadi semakin egois dan fanatik terhadap satu hal. Yang terjadi seharusnya semakin kita banyak belajar dan banyak ilmu pengetahuan maka kita akan mejadi semakin bijaksana" berucap dengan tegas, menyeruput kembali isi kopi pada cangkir yang kian berkurang.


Sebagai penutup, beliau memberikan satu kutipan yang terus akan saya ingat. "Jangan lupa menempatkan diri dimanapun kita berada. Dimana bumi dipijak di situ langit dijunjung,” begitu beliau tegaskan. Berdiri dan menghabiskan segelas kopi tadi, beliau menepuk bahu saya dua kali, sembari berlalu dan menghilang pergi.


Penutup perbincangan panjang yang telah saya cari-cari.

Penulis : Luh Putu Anggreny

***

Tulisan ini bagian dari program Workshop dan Story Grant Pers Mahasiswa yang digelar Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) atas dukungan Friedrich-Naumann-Stiftung für die Freiheit (FNF) dan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

 

Posting Komentar

0 Komentar

Ad Code

Responsive Advertisement