Ticker

6/recent/ticker-posts

Ad Code

Responsive Advertisement

Opini Warga : Desa Wisata Sugian Dalam Bayang-bayang Tambak Udang

 Fikri Mahfuz Ali

Sambelia - SK, Bicara tentang Desa Sugian tidak akan pernah tuntas, baik dari sumberdaya alamnaya dimana sektor pertanian, perikanan hingga semua sudut desa dapat dijadikan sebagai sektor wisata yang akan mengangkat pertumbuhan ekonomi warga sekitarnya, namun waktu belakang ini banyak diekploitasi oleh orang yang berkepentingan yang hanya mementingkan diri sendiri dan kelompoknya.

Lalu masyarakat mendapatkan apa? Bagaimana keberlangsunagan ekosistem dan lingkungan  yang dibangga banggakan dulu ? kebanggan seperti apa yang akan kita ceritakan nanti untuk generasi yang akan datang?

Desa Sugian, Desa yang Berprestasi

Banyak kegiatan yang diikuti oleh Desa Sugian dalam ajang lomba baik tingkat daerah hingga nasional dan tidak sedikit pula mendapatkan pengharagan dalam bidang pariwsata bahari, sehingga tentunya sebagai warga desa yang lahir dan besar di di desa ini kami merasa sangat bangga memiliki desa yang kaya akan potensi.

Melalui tulisan ini saya menggambarkan betapa sumber daya alam yang dimiliki Desa Sugian begitu besar, sehingga mengundang banyaknya para kapitalis masuk ke desa kami.

Tambak dan Dampak

Beberapa hari ini sedang ramai di berbagai  sudut dusun, berugak, diskusi para “elit” desa, hingga  kami menyimak dengan hati dan pikiran masih acuh, akan tetapi ada bisikan cinta hati nurani yang menggugah kami untuk berbicara tentang bagaimana dampak yang akan ditimbulkan akibat adanya tambak di Desa Wisata Sugian.

Dengan melihat geografis lokasi tempat yang akan dibangun tambak ini sungguh tak mungkin, yang dimana ia berada di persis belakang permukiman warga, yang dimana limbah dari tambak ini nantinya melewati permukiman pula.

Kita tahu tempat itu telah digodok menjadi objek wisata yang berabasis masyarakat sejak beberapa tahun lalu, yang telah menghabiskan puluhan juta hingga ratusan juta pula untuk mengelola Pantai Kokok Pedek.

Namun pada akhirnya yang kita terima apa bila tambak ini benar adanya nanti, semua itu akan sia-sia  dan permukiman warga (Kokok Pedek) secara khusus, hanya akan mendapatakan bising dari beroprasinya tambak, rusaknya fasilitas umum seperti jalan warga ataupun dan polusi debu dari kendaraan yang lalu lalang ketika pengangkutan material, hingga bau busuk yang akan ditimbulkan dari limbah, tidak menutup kemungkinan air bersih yang digunakan saat ini akan tercemar pula, itu dampak didarat.

Lalu bagaimana dengan wisata bahari yang kita miliki? Tentunya kita atau wisatawan yang tidak ingin berenang dengan air laut yang dulunya jernih sekarang keruh yang telah tercemar oleh limbah.

Penyusutan Lahan Produktif

Pada sektor pertanian atau lahan produktif yang dimiliki warga di sekeliling tambak nanatinya, kami rasa dengan pengetahuan yang minim dengan teori yang paling mendasar yakni air laut akan mempengaruhi tanah yang akan berlanjut pada hidup maupun  tumbuh dari tanaman warga nantinya, yang akan menurunkan hasil produksi pertanian warga.

Seperti kita ketahui bersama disekitar Kokoq Pedek ini menjadi langganan banjir, dengan adanya tambak ini bukankah akan mempersempit saluran air dengan konstruksi bangunan tambak udang, dimana tambak lebih tinggi dari pada lahan pertanian ataupun permukiman warga.

Dari tulisan ini kami berharap lingkungan desa kami tidak dicemari dengan adanya limbah yang dihasilkan oleh tambak udang, lahan pertanian disekitar pesisir tidak di privatisasi hanya untuk pembangunan tambak.

Posting Komentar

0 Komentar

Ad Code

Responsive Advertisement